PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Rabu, 31 Juli 2013

Pura Agung Raksa Buana dan Kuil Sri Mariamman Medan

Umat Hindu Medan. Kuil Sri Mariamman berdiri pada tahun 1800 sebagai awal perkembangan Umat Hindu di Medan Sumatera, dimana latar belakang Umat Hindu ini berasal dari India Selatan (Tamil). Saat ini komunitas Hindu di Medan berasal dari India Selatan (Tamin), Bali, Suku Karo. Langkat dan etnis Cina, dan dari segi kerukunannya sangatlah tinggi.Terlihat dari perayaan-perayaan hari besar umat Hindu, seperti Hari Dipawali untuk Hindu dari India, dan hari raya Nyepi untuk umat Hindu dari Bali.

Pura Agung Raksa Buana terletak di Jalan Polonia No.26 Kompleks Angkatan Udara, cukup dekat dengan Bandara Polonia Medan.Pendirian Pura Agung Raksa Buana dirintis sejak tahun 1974 dan baru diresmikan pada tahun 1982.
Pura Agung Raksa Buana terdiri atas Tiga Mandala, dimana terdapat pelinggih Padmasana, Pengrurah, Dewi Saraswati, Patung Wisnu, Patung Siwa, Kori Agung dengan Pengapit Lawang serta Bale Gong.
Pengempon Pura Agung Raksa Buana ini berasal dari multi etnis seperti Bali, Batak Karo, Mangali, Umat Sik, Cina, Jawa dan lain sebagainya yang tetap mempertahankan agama Hindu dan budayanya masing-masing, seperti dalam hal berpakaian.

Hubungan antar umat sangat guyub, tidak ada konflik, tidak ada mempermasalahkan latar belakang, Umat Hindu melaksanakan ajaran Hindu menurut Catur Marga nya masing-masing.

(RANBB)

Sarjana Hindu Blitar Semangat Susun “Database” Hindu Majapahit

Bupati Resmikan The Hindu Center of Blitar

CITA–CITA leluhur Hindu Nusantara dan harapan dari jutaan umat Hindu Indonesia akan disusunnya Ensiklopedi Hindu Nusantara tahun 2020, tampaknya segera menjadi kenyataan. Hal ini tengah diwujudkan oleh Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III (President The Hindu Center Of Indonesia) dengan diresmikannya The Hindu Center Of Blitar, Jawa Timur.

Peresmian THCI Blitar tersebut langsung dihadiri H. Herry Noegroho, S.E., M.H. (Bupati Blitar) dan jajaran Pemerintah Kabupaten Blitar. Selain itu hadir sejumlah tokoh Hindu yakni Endang Sri (Ketua PHDI Blitar), Pandito Hindu Blitar dan sejumlah tokoh pemuda Hindu.

Dalam sambutannya Bupati Blitar merasa bangga jika di wilayahnya hadir sebuah organisasi intelektual yang diharapkan mampu bersinergi dengan pemerintah kabupaten. Hal senada disampaikan Endang Sri, yang menyatakan THCI Blitar akan segera menyusun database Hindu Blitar yang nantinya akan diterbitkan oleh THCI Pusat.

''Kami sebagai generasi muda Hindu Blitar sangat bangga, tokoh kami di Bali masih peduli dengan masa depan Hindu Blitar. Kami siap bersinergi dalam berjuang untuk mengejar ketertinggalan,'' ungkap Sunarno, S.Pd.H (Direktur The Hindu Center Of Blitar).

Dalam kesempatan itu disampaikan sejumlah motivasi oleh pendiri sekaligus President THCI, Dr. Arya Wedakarna agar umat Hindu di Jawa menanamkan rasa jengah dan kesetiaan dalam beragama Hindu. ''Saya bangga, di Blitar umat Hindu asli Jawa menjadi mayoritas kedua. Ini berarti, Majapahit belum hancur dan hilang. Terbukti saudara–saudara setia beragama Hindu selama 500 tahun pasca Sandyakalaning Majapahit. Itu harus terus didokumentasikan dan disebarkan, bagaimana strategi leluhur saudara bisa setia, bertahan dan bisa Berjaya terhadap Hindu Nusantara. Semuanya akan masuk dalam Ensiklopedi Hindu dari Sabang sampai Merauke yang akan saya tuntaskan tahun 2020. Ini sesuai dengan amanat Bung Karno sebagai penggali Pancasila, bahwa Indonesia ini dipenuhi oleh budaya Sansekerta dan budaya Hindu,'' ujar Wedakarna yang juga Rektor Unmar itu.

Apa yang akan dilakukan THCI Blitar dalam waktu dekat? ''Saya berikan waktu sampai akhir tahun, agar buku Seri Pertama Sejarah Hindu Blitar ini tuntas. Nanti kita sebarkan ke seluruh Blitar dan Jawa Timur. Selain itu, saya dukung program Bupati Blitar yang akan mengadakan Festival Candi di Blitar, ini untuk mengingatkan kejayaan Majapahit di Blitar. Jangan lupa, Blitar memiliki Candi Penataran, yang dipercaya sebagai perabuan Ratu Majapahit Tri Bhuwana Tungga Dewi (Ibunda Raja Hayam Wuruk). Blitar juga jadi tempat Makam Prokmalator Bung Karno. Ayo kita bangkitkan Sabdo Palon Nayogenggong,'' ujar President The Sukarno Center ini.

http://www.balipost.co.id

Konferensi Pemuda Hindu Dunia | World Hindu Youth Conference

Konferensi Pemuda Hindu Dunia (World Hindu Youth Conference) pertama kali diadakan pada bulan maret yang lalu di di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali, yang meng­ambil tema "kebangkitan Pemuda Hindu Dunia dengan semangat Bhagawad Gita".

Dalam ajaran agama Hindu, masa muda atau masa remaja merupakan kesempatan hidup yang sangat berharga untuk dilewatkan/disia-
siakan begitu saja. Di dalam Sarasamuccaya karya Bhagawan Wararuci, dengan jelas menyatakan “ Karenanya usaha seseorang selagi masih muda, selagi badan kuat, supaya diabdikan untuk mengusahakan dharma, artha dan pengetahuan, sebab tidak sama kekuatan sesudah tua dibanding dengan anak muda, ibarat alang-alang yang masih muda ujungnya begitu tajam dan bisa melukai, namun alang-
alang yang sudah tua mudah rebah, ujungnyatidak tajam lagi"

World Hindu Youth Conference (WHYC) pertama ini merupakan salah satu program dari Vishva Hindu Parisad atau Parisada Hindu Dunia yang dikomandani oleh Swami Vigyanand yang bermarkas di New Dehli India, berkolaborasi dengan Komite Mahasiwa Hindu Indonesia Pusat dan Peradah yang bertujuan untuk membangkitkan semangat generasi Muda Indonesia untuk berkarya dan bekerja keras dalam persaingan era global di masa post modern.

Negara-negara yang hadir dalam WHYC adalah Amerika serikat, Inggris, Australia, Malaysia, Singapura, Republik Tonga, India, Thailand, United Arab Emirates, dan Indonesia.

Konferensi Pemuda Hindu Dunia yang pertama telah digelar tentu akan ada yang ke dua, ke tiga dan seterusnya. Pemuda Hindu sebaiknya mempersiapkan diri dengan informasi-informasi global dan bersiap ditunjuk untuk menghadiri Konferensi Pemuda Hindu Dunia selanjutnya. Mungkin itu Anda !!!.

(RANBB)

Selasa, 30 Juli 2013

Pura Oebanantha Kupang Nusa Tenggara Timur

Umat Hindu Kupang. Pura Oebanantha terletak di Jl. Sabu kelurahan Fatubesi Kupang, Pura Oebanantha dibangun tahun 1979 merupakan Pura tertua di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak tahun 1962 tempat ini sudah dipergunakan untuk beribadat umat Hindu, namun baru  pada tahun 1979 lah dibangun dalam wujud Pura. Pura Oebanantha terletak di pinggir laut yang indah, dan pemerintah daerah sangat memberikan perhatian dengan pembangunan tembok pengaman pantai.

Pura Oebanantha sebagai tempat Suci Umat Hindu untuk wilayah Kupang dan sekitarnya, persembahyangan Purnama-Tilem selalu dilaksanakan oleh umat. Demikian juga saat-saat hari besar keagamaan , seperti Hari Raya Nyepi, umat mempersiapkan segala upacara Yadnya di lingkungan Pura Oebanantha, pelaksanaan Tawur Agung dan Brata Penyempian juga dilaksanakan di lingkungan Pura Oebanantha. Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan hari raya Kemenangan Dharma atas Adharma selalu dirayakan oleh Umat Hindu Kupang di Pura Oebanantha ini.

Selain kegiatan keagamaan yang berhubungan dengan Yadnya, Pura Oebanantha juga tempat bertemunya para umat dalam Lokasabha, pesamuan, sangkepan, mebanjar menyama braya atau pertemuan-pertemuan PHDI Kupang. Stata segalak segilik selunglung sebayanta paras paros sarpanaya menyama braya.

Kerukunan umat di Kupang sangat bagus, baik dalam kegiatan keagamaan maupun dalam bergotong-royong membangun daerah. Tempat Suci umat Hindu di Provinsi Nusa Tenggara Timur diantaranya; Pura Giri Satrianantha;  Komplek Bataliyon Infantri 744, Satya Yudha Bhakti Tobir, Atambua, Pura Atambuanantha Kutamba di  Komplek  Kodim 1605 Belu, Pura Wakikah, Pura Webananta dan Pura Agung Giri Kertabhuana

(RANBB)

Festival Seni Budaya Keagamaan Hindu

Umat Hindu Indonesia. Festival Seni Budaya Keagamaan Hindu Tingkat Nasional sebelumnya bernama Festival Seni Sakral Keagamaan Hindu Tingkat Nasional yang  pertama kali digelar  di Kota Surakarta Solo pada tahun 2010. Untuk Festival Seni Budaya Keagamaan Hindu Tingkat Nasional ke dua diadakan di Jogjakarta yang dipusatkan di Kraton Pura Pakualaman Yogyakarta pada tahun 2012.

Festival Seni Budaya Keagamaan Hindu Tingkat Nasional  menampilkan berbagai keragaman ekspresi seni dan budaya masyarakat Hindu di Indonesia baik dalam bahasa, musik tradisi, lagu-lagu daerah, tari, maupun ritual keagamaannya.

Festival Seni Budaya Keagamaan Hindu  Tingkat Nasional mempresentasikan bagaimana agama sangat mempengaruhi penciptaan karya seni yang menjadi ciri khas masing-masing agama dan daerah. Bagi umat Hindu, seni tidak bisa dipisahkan dengan agama. Dalam setiap kegiatan ritual upacara keagamaan, umat Hindu selalu menyertakan berbagai kesenian, baik musik maupun tari, sebagai bagian dari ritual upacara.

Festival Seni Budaya Keagamaan Hindu Tingkat Nasional ini menjadi salah satu media pelestarian seni keagamaan sekaligus meningkatkan kerukunan umat beragama di Indonesia. Jangan sampai seni-seni yang sakral yang mengiringi upacara keagamaan semakin ditinggalkan. Lebih dari itu, dengan penyelenggaraan festival dua tahunan ini diharapkan potensi-potensi seni keagamaan Hindu mampu mengambil peran untuk meningkatkan kualitas srada dan bhakti umat Hindu di Indonesia.

Catatan :
Festival Seni Sakral Keagamaan Hindu Tingkat Nasional  I di Kota Solo tahun 2010
Festival Seni Budaya Keagamaan Hindu Tingkat Nasional  II di Kota Jogjakarta tahun 2012
Festival Seni Budaya Keagamaan Hindu Tingkat Nasional III di Kota wilayah Indonesia semoga dapat kembali berlangsung, serta dapat diikuti oleh seluruh propinsi di Indonesia. Awighnamastu..

Dari berbagai sumber (RANBB)  

Pura Agung Giri Natha Sumbawa

Umat Hindu Sumbawa. Bertepatan dengan Hari  Raya Galungan yang jatuh pada hari Rabu, Kliwon , wuku Dunggulan pada tanggal 14 Oktober 2009 telah dilaksanakan upacara  Ngenteg Linggih dan Ngresigana di Pura Agung Giri Natha Sumbawa Besar yang dipuput oleh Ida Pedanda Gede Kertha Arsa dari Geria Amertha Sari Pagesangan Mataram.

Pura Agung Giri Natha ini telah berdiri sejak tahun 1957, terletak di Jalan Yos Sodarso No. 25 Sumbawa Besar dan baru sekarang dilaksanakan Upacara Karya Ngenteg Linggih,sehingga pada hari Rabu 14 Oktober 2009 merupakan hari yang bersejarah bagi umat beragama Hindu yang berdomisili di Kabupaten Sumbawa.

Pura Agung Giri Natha juga saksi duka umat Hindu kita di Sumbawa, Awighnamastu, dumogi sami pada rahayu. Satyam Eva Jayate.

(RANBB)

Kuil Swaminarayan Akshardham di India

Umat Hindu India. Swaminarayan Akshardham atau Kuil Akshardham adalah salah satu kompleks kuil Hindu terindah dan terbesar yang ada di India.

Pembangunan Kuil sudah dirintis sejak tahun  1968 dimana Yogiji Maharaj yang merupakan seorang pemimpin spiritual dari BAPS Swaminarayan Sanstha menginginkan pembangunan sebuah kuil yang besar yang dibangun di tepi sebuah sungai yamuna, namun belum juga bangunan dan proyek berhasil Yogiji Maharaj sudah meningal terlebih dahulu pada tahun 1971. Perancangan dan pembangunan kemudian diterusakan oleh Pramukh Swami Maharaj yang merupakan penerus dan pemimpin spiritual pengganti Yogiji Maharaj di BAPS Swaminarayan Sanstha.

Pada bulan April 2000 kemudian atas tawaran otoritas pembangunan Delhi, pihak Pramukh Swami Maharaj ditawari tanah seluas 60 hektar untuk pembangunan kuil. Setelah melalui berbagai persiapan dan rencana pendukung pada tanggal 8 November 2000 pembangunan kuil pun dilaksanakan dan berjalan serta berhasil selesai, untuk kemudian resmi dibuk pada tanggal 6 November 2005.

Pada tanggal 17 Desember 2007, Swaminarayan Akshardham kemudian dinobatkan menjadi Candi Hindu Komprehensif Terbesar di Dunia oleh Guinness World Records, kepercayaan ini semakin menambah daya tarik dan keunggulan Swaminarayan Akshardham sebagai Kuil Hindu yang besar dan indah di dunia.

Selain itu terdapat pula Kuil-kuil Hindu seperti Amman Kuil Meenakshi di Madurai, Ranganathaswamy Temple Sri yang berada di Srirangam dan Kuil Annamalaiyar di Thiruvannamalai.

sumber http://www.rencanaliburan.com

Senin, 29 Juli 2013

Principle Beliefs of Hinduism | Brahman


Brahman

Brahman is the eternal, unchanging and infinite reality which is the divine god of all matter, energy, time, space, being and everything beyond the Universe. Brahman is the ground of all reality and existence. Brahman is uncreated, external, infinite and all-embracing. It is the ultimate cause and goal of all that exists. It is One and it is All. All beings emanate from Brahman; all beings will return back to the same source. Brahman is in all things and it is the true Self (Atman) of all beings.

Atman

The Sanskrit word ‘Atman’ means ‘self’, plain and simple. It refers to an inmost self that is pure spirit, at the living centre of each person’s body, sense and mind. The self-called Atman is that inmost knowing principle which is shared  in common by our confused identifications. It is that plain and simple self which is found only by reflecting back to it, to it’s pure knowing unconfused with outward personality.

http://hinduism4kids.tumblr.com

Principle Beliefs of Hinduism | KARMA

KARMA

The Hindu concept of karma originates from one of the four purposes of life, being karma( the pursuit of pleasure) artha (the pursuit of propserity), dharma (way of life) and moksha (which is liberation). Karma is connected to the concept of reincarnation, the total of positive and negative experiences on others’ lives contribute to our after life - hence reincarnation.  

The Hindus believe that while the physical body may decay and eventually die, the soul of the person cannot be “killed". The karma from our past lives is carried by the soul from one birth to another and the purpose of life is to accumulate enough positive karma by following the path of dharma so that we may attain liberation from rebirth, or moksha.

http://hinduism4kids.tumblr.com

Principle Beliefs of Hinduism | Moksha

Moksha is the liberation from samsara or obtaining enlightenment, or the concept of self-realisation, or the union with God.

Moksha is the highest goal in Hinduism and can be attained through the four Yogas -
Karma Yoga: working for the Supreme
Jnana Yoga: realising the Supreme
Raja Yoga: meditating on the Supreme
Bhakti Yoga: serving the Supreme in loving devotion

Once Moksha is achieved, one will lie in ultimate peace, obtain ultimate knowledge and attain ultimate enlightenment.

http://hinduism4kids.tumblr.com

Pura Pemacekan Gunung Lawu Karanganyar


Umat Hindu Surakarta. Pura Pemacekan Karanganyar terletak di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Dusun Pasekan, Desa Keprabon, Kecamatan Karangpandan, Surakarta. Pujawali Pura Pemacekan jatuh pada  Purnama Katiga.

Lokasi ini pada awalnya adalah petilasan dari tokoh pemuka masyarakat dan agama Hindu pada zaman dahulu ,setelah dilakukan perombakan terhadap fasilitas fisik di Pura Pemacekan tersebut, akhirnya pada 11 Februari 2005 Pura Pemacekan secara resmi berada di bawah naungan Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR), salah satu organisasi yang menaungi pura leluhur. 

Pengempon Pura Pemacekan merupakan semeton Pasek, Bali dan Jawa terutama yang berada di wilayah Karanganyar Surakarta.

Pura Pemacekan terdiri atas tiga Mandala yaitu Utama Mandala terdapat petilasan leluhur Kiai I Gusti Ageng Pemacekan dan istrinya. Ada juga Meru Tumpang Pitu yang melambangkan Parahyangan Sapta Pandita atau tujuh pendeta, yaitu Mpu Ketek, Mpu Kananda, Mpu Wiradnyana, Mpu Witadharma, Mpu Ragarunting, Mpu Prateka dan Mpu Dangka.

Masih di Utama Mandala Pura Pemacekan terdapat pula Candi Gelung Patung Panca Tirta, Candi Gelung Patung Dewa,  Bale Piasan (tempat pemujaan Ista Dewata), Padmasana (tempat pemujaan Hyang Widhi), Sapta Pertala (tempat pemujaan penguasa bumi), Bale Pawedan (tempat bagi para pandita brahmana), Candi Bentar, Bale Agung (tempat sesaji) dan Patung Ghana.

Pada Madya Mandala Pura Pemacekan Gunung Lawu terdapat Bale Banjar yang biasanya digunakan oleh umat Hindu untuk menggelar kegiatan sosial, rapat, sangkepan, dan juga untuk menggelar Wilujeng Sura bagi warga Dusun Pasekan.

Pada  Nsita Mandala terdapat Taman Beji dengan adanya Beji, maka sarana Pura Pemacekan semakin lengkap untuk kenyamanan batin umat yang nangkil.

Dari berbagai sumber.
2c6WTNVovpEa3P9W-OUAzGpUlG4
(RANBB)

Ratha Yatra adalah festival utama Hindu

Umat Hindu India. Ratha Yatra adalah festival utama Hindu terkait dengan Tuhan Jagannath (avatar Dewa Wisnu) yang diselenggarakan di Puri di India selama bulan Juni atau Juli.

Puri Rath Yatra terkenal di dunia dan menarik lebih dari satu juta peziarah setiap tahun, tidak hanya dari India, tetapi juga dari berbagai belahan dunia. Rath Yatra dengan kata lain Festival Chariot adalah satu-satunya hari ketika umat yang tidak diizinkan masuk ke kuil bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat para dewa. Festival ini merupakan simbol kesetaraan dan integrasi.

Tiga (3) dewa, Tuhan Jagannath, kakaknya Tuhan Balabhadra dan adik mereka Subadra disembah dalam kuil, pada festival ini mereka dibawa ke jalan-jalan Puri sehingga setiap orang dapat memiliki keberuntungan untuk melihat mereka. Tiga (3) dewa membuat perjalanan tahunan ke kuil bibi mereka (Gundicha Temple), 2 km dari Jagannath rumah TUHAN.

Kuil Jagannath di Puri adalah salah satu di antara empat kuil paling suci di India. Tiga lainnya adalah: Rameshwaram di selatan, Dwarika di barat dan Badrinath di utara.

sumber : http://www.calendarlabs.com/holidays/india/rath-yatra.php

Pura Jagadnatha TNI AU Tabing Padang Sumatera Barat

Umat Hindu Padang. Pura Jagadnatha Padang  terletak di Pangkalan Udara TNI AU Tabing Padang Sumatera Barat. Pembangunan Pura Jagatnatha dilaksanakan tahun 2011 untuk melengkapi Pelinggih Padmasana meliputi pembangunan pelinggih-pelinngih seperti Candi Bentar, Kori Agung, Bale Kulkul dan Bale Pewaregan.

Pura Jagadnatha TNI AU Tabing Padang adalah satu-satunya Pura untuk sembahyang Umat Hindu di Sumatera Barat. Selain itu Pura juga merupakan tempat bertemunya krama Bali yang ada di Padang dan sekitarnya, baik untuk melepas kangen sesama orang Bali dalam berdiskusi, belajar agama, meningkatkan spiritual dan sagilik saguluk menyama braya.

(RANBB)

Minggu, 28 Juli 2013

Pura Canti Muara Dipa Bengkulu

Umat Hindu Bengkulu. Pura Canti Muara Dipa Bengkulu terletak di jantung kota Bengkulu Jl. Bhakti Husada Lingkar Barat, Kota Bengkulu. Pengempon pura adalah Banjar Santhi Muara Dipa Bengkulu dengan warga tersebar di Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan, Desa Arga Makmur, Desa Sukaraja dan Kaur.

Pura Canti Muara Dipa merupakan pusat kegiatan keagamaan umat Hindu di Bengkulu, seperti perayaan tahun Baru Caka, brata Penyepian dan Dharma Santi, persembahyangan Purnama-Tilem, Hari Raya Galungan dan Kuningan, serta rerahinan lainnya.

Pura Hindu selain Pura Santi Muara Dipa yang ada di Propinsi Bengkulu meliputi ; Pura Dharma Kerti yang sebagai pengempon Kerama umat Hindu di Desa Suro Bali Kecamatan Ujan Mas, Pura Giri Kencana di Dusun Suka Mulyo Desa Parda Suka Kecamatan Maje.

(RANBB)

Pura Meru; Pura Brahma Wisnu Siwa di Mataram Lombok

Umat Hindu Lombok. Pura Meru yang berada di Lombok, terletak di tengah Kota Mataram, tepatnya di Jalan Selaparang, Kecamatan Cakranegara, Pura Meru merupakan yang terbesar dan tertua di wilayah Lombok. Dibangun pada tahun 1720 oleh Pangeran Anak Agung Made Larang, Pura Meru didedikasikan untuk 3 dewa utama umat Hindu (Dewa Brahma, Dewa Syiwa, dan Dewa Wishnu).

Ketiga pura tersebut juga mewakili tiga gunung yang dianggap suci oleh pemeluk agama Hindu; Pura Brahma mewakili Gunung Agung di Bali, Pura Syiwa mewakili Gunung Rinjani di Lombok, dan Pura Wishnu yang diwakili oleh Gunung Semeru di Jawa Timur. Soal bentuk, hanya Pura Syiwa yang memiliki atap susun 11, sedangkan Pura Wishnu dan Pura Brahma memiliki atap susun berjumlah 9.

“Meru” merupakan kependekan Gunung Semeru yang berada di Jawa Timur. Anak Agung yang masih memiliki garis keturunan dari Kerajaan Singosari dari daerah Jawa Timur tidak melupakan bahwa Gunung Semeru juga merupakan gunung yang dianggap suci oleh leluhurnya. Maka dari itu, pura tersebut mengambil nama Gunung Semeru yang dipersingkat menjadi Pura Meru.

Ketiga pura juga memiliki arti simbol warna yang bermakna. Pada perayaan piodalan (acara untuk mengingat lahir kembalinya pura), setiap pura akan dihiasi dengan kain yang disesuaikan dengan warna yang berbeda. Pura Brahma akan dihiasi dengan warna merah yang berarti api, simbol kematian umat Hindu yang dikremasi menggunakan api. Pura Syiwa menggunakan kain berwarna putih yang merupakan simbol air untuk mensucikan abu hasil kremasi sebelum dibuang ke laut. Sementara, Pura Wishnu akan dihiasi dengan kain hitam yang melambangkan kegelapan atau kehidupan baru setelah kematian.

(RANBB)

Pura Wuar Masbaat Tanimbar Kei Maluku Tenggara


Umat Hindu Maluku. Pura Wuar Masbaat yang berlokasi di desa Tanimbar Kei, kecamatan Kei Kecil Barat, Kabupaten Maluku Tenggara, Propinsi Maluku. Desa Tanimabar Kei  yang letaknya cukup jauh dan terpencil dari ibu kota Kecamatan maupun kota Kabupaten Maluku Tenggara dengan penduduknya yang masih memeluk agama Hindu senantiasa  mempertahankan sejarah dan adat istiadat di desa Tanimbar Kei.

Atas asungkerta waranugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ) pada tanggal 27 Agustus 2007 telah dilaksanakan peletakan batu pertama untuk pembangunan Pura WUAR MASBAAT di desa Tanimbar Kei oleh Pembimbas Hindu Dharma Propinsi Maluku.
Pura Wuar Masbaat merupakan pusat peribadatan kepada Ida Sang  Widhi Wasa. Pura Wuar Masbaat juga sebagai tempat pembinaan dan peningkatan Sradah dan bhakti kepada Sang Widhi Wasa terutama bagi anak-anak dan Remaja Generasi Penerus. Pura Wuar Masbaat juga merupakan sumber Inspirasi penggerak persatuan dan kesatuan serta Kemaslahatan yang kondisi masyarakat desa Tanimbar Kei pada umumnya Tani dan nelayan.

ARTI DARI NAMA WUAR MASBAAT            
Wuar Masbaat adalah nama sebuah Gunung Ajaib yang terletak di pusat desa Tanimbar Kei  yang biasa di lihat pada waktu tertentu “ BAGI UMAT YANG DIANGGAP SUCI DAN BERSIH “ dan tidak bisa dilihat oleh sembarang orang. Wuar adalah gunung, Masbaat adalah nama, jadi Wuar Masbaat adalah “Gunung  Masbaat “

Rasa percaya diri dan kekutan spritual mulai bangkit di dalam diri umat Hindu di desa ini. Kalimat-kalimat yang menyindir dan menyudutkan umat Hindu di desa ini tidak terdengar dan tidak terlihat lagi. Proses ritual tradisi berjalan dengan sangat hikmat karena di topang dengan kehadiran pura Wuar Masbaat sebagai semangat spritual keagamaan.

(RANBB)

Pura Kahyangan Jagad Amerta Jati Balekambang Malang

Umat Hindu Malang. Pura Kahyangan Jagad Amerta Jati terletak di Pantai Balekambang  Kabupaten Malang, Jawa Timur. Seperti pantai pada umumnya yang dihiasi pulau-pulau. Balekambang dihiasi tiga buah pulau kecil yang diberi nama khas tokoh pewayangan, yakni: Pulau Ismoyo, Pulau Anoman, dan Pulau Wisanggeni. Pulau Ismoyo tampak berbeda karena didirikan sebuah Pura diatasnya pada tahun 1985. Pura Kahyangan Jagad Amerta Jati namanya.

Untuk menuju pura, kita bisa mengaksesnya melalui sebuah jembatan selebar 1,5 m. Dari atas jembatan bisa dinikmati panorama yang indah dengan cakupan mata memandang yang lebih luas. Jika air sedang pasang, akan terlihat pulau dengan puranya yang indah seolah mengambang di atas air. Sepintas mirip dengan Tanah Lot di Bali. Inilah yang membuat khas Balekambang. Itu pula yang menyebabkan mengapa pantai ini diberi nama Balekambang.

Adanya pura di kawasan ini dapat menjadi tanda bahwa penduduk setempat menganut Agama Hindu. Setiap agama pasti punya hari tertentu untuk melakukan ritual khusus. Tidak berbeda dengan masyarakat di pesisir Balekambang. Setiap tahun, banyak wisatawan yang berkunjung ke tempat ini untuk melihat, bahkan mengikuti upacara adat Jalanidhipuja dan Suroan. Upacara adat Jalanidhipuja atau Melasti dalam rangkaian Hari Raya Nyepi untuk umat Hindu di Malang Raya sedangkan Suroan adalah upacara tahun baru jawa.

Jalanidhipuja ini merupakan prosesi ritual untuk menyambut Tahun Baru Saka yang dilakukan para umat Hindu Dharma (saat matahari bergeser ke utara meninggalkan khatulistiwa). Sedangkan upacara Larung Sesaji Suran merupakan acara selamatan penduduk Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, yang dilaksanakan sejak 1910 (setiap 1 Sura sesuai kalender Jawa).

Selain Pura Kahyangan Jagat Amerta Jati di Balekambang, terdapat pura lainnya silakan klik; http://phdijatim.blogspot.com

Dari berbagai sumber.

(RANBB)

Punden, Danyang dan Poten Tempat Ibadah Umat Hindu Tengger

Suku Tengger dan Kepercayaan Hindu Mahayana

Agama Hindu Tengger. Pada awal tahun 100 Sebelum Masehi orang-orang Hindu Waisya yang beragama Brahma bertempat tinggal di pantai-pantai yang sekarang dinamakan dengan kota Pasuruan dan Probolinggo. Namun, setelah Islam mulai masuk ke tanah Jawa pada tahun 1426 Sebelum Masehi keberadaan mereka mulai terdesak.

Mereka pun kemudian mencari daerah yang sulit dijangkau oleh manusia (pendatang) yakni di daerah pegunungan tengger dan membentuk kelompok atau suku yang di kenal sebagai tiang tengger (orang tengger).

Masyarakat Tengger memiliki kepercayaan yaitu Hindu Mahayana. Pada abad ke-16, para pemuja Brahma yang tinggal di Pegunungan Tengger kedatangan pelarian dari orang Hindu Parsi (parsi berasal dari kata Persia) sehingga orang-orang Tengger yang semula beragama Brahma beralih ke agama Parsi, yaitu agama Hindu Parsi.

Perpindahan agama orang Tengger dari agama Brahma ke Hindu Parsi tersebut ternyata tidak serta merta menghilangkan seluruh kepercayaan awal mereka. Orang Tengger masih tetap melakukan ajaran Budha termasuk kebiasaan yang pada akhirnya dianut juga oleh penganut Hindu Parsi.

Masyarakat Tengger mempercayai Sang Hyang Agung, roh para leluhur, hukum karma, reinkarnasi, dan moksa. Kepercayaan masyarakat Tengger terhadap roh diwujudkan sebagai danyang (makhluk halus penunggu desa) yang di puja di sebuah punden.

Punden tersebut biasanya terletak di bawah pohon besar atau dibawah batu besar. Roh leluhur pendiri desa mendapatkan dibawah batu besar. Roh leluhur pendiri desa mendapatkan pemujaan yang lebih besar di sanggar pemujaan. Setahun sekali masyarakat suku tengger mengadakan upacara pemujaan roh leluhur di kawah Gunung Bromo yang disebut dengan upacara Kasada. Ajaran agama tersebut di satukan dalam sebuah kitab suci yang ditulis di atas daun lontar yang dikenal dengal nama Primbon.

Sesaji dan mantra amat kental pengaruhnya dalam masyarakat suku Tengger. Masyarakat Tengger percaya bahwa mantra-mantra yang mereka pergunakan adalah mantra-mantra putih bukan mantra hitam yang sifatnya merugikan.

Dalam melaksanakan peribadatan, masyarakat Tengger melakukan ibadah di punden, danyang dan poten. Poten adalah tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu. Keberadaan poten ada pada sebidang lahan di lautan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Poten terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi menjadi tiga Mandala/zona yakni Mandala utama (Jeroan), Mandala Madya (jaba tengah) dan mandala Nista (Jaba sisi).

Sumber berita : http://www.wartabromo.com

Sabtu, 27 Juli 2013

Ganesha Chaturthi Umat Hindu India

Umat Hindu India. Ganesha Chaturthi juga dikenal sebagai Vinayaka Chaturthi adalah salah satu festival Hindu yang penting dirayakan di seluruh India dengan pengabdian yang besar. Hari ini dirayakan sebagai hari kelahiran Tuhan Ganesha, putra berkepala gajah Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Tuhan Ganesha adalah simbol kebijaksanaan, kemakmuran dan keberuntungan.

Ganesha Chaturthi
dirayakan pada Chaturthi Shukla dari bulan Hindu Bhadra (umumnya jatuh antara bulan Agustus dan September). Festival ini dirayakan oleh umat Hindu dengan antusiasme yang besar. Orang-orang membawa Tuhan Ganesha ke rumah mereka dan melakukan ibadah. Durasi festival ini bervariasi dari 1 hari sampai 11 hari, tergantung pada tempat dan tradisi. Pada hari terakhir festival yang diambil dalam prosesi warna-warni, musik dan direndam dalam air tradisional.

Sesuai mitologi Hindu Tuhan Ganesha dianggap sebagai "Vigana Harta" (orang yang menghilangkan hambatan) dan "Buddhi Pradaayaka" (orang yang memberikan kecerdasan). Festival ini sangat penting bagi siswa, mereka menyembah Tuhan Ganesha menerangi pikiran mereka.

sumber : http://www.calendarlabs.com

Belajar sampai ke Negeri India

Umat Hindu Indonesia. Bila kita sebagai umat Hindu mau belajar agama dari asal agama kita yaitu India, banyak sekali tuntunan dari para cendikiawan dan tokoh umat, serta telah menjadi pembela Dharma sejak dahulu. Dengan pemikiran-pemikiran yang sangat brilian dalam pemahaman agama Hindu kita akan mampu menjawab segala hal yang berkaitan dengan keraguan masyarakat pada agama Hindu.

Tokoh yang telah mendunia dengan ajaran-ajaran suci Veda, ajaran Sanatana Dharma nya seperti; Sarvepalli Radhakrishnan, Swami Vivekananda, Mahatma Gandi, Sri Ramakrishna Paramahansa, Satguru Siva Yogaswami, Swami Ranganathananda, Maharsi Yogaswami, Swami Dayananda Saraswati, Swami Chinmayananda, Satguru Sivaya Subramuniyaswami dan lainya.

Pemikiran-pemikiran yang yang sangat dalam tentang Kitab Suci Veda, tentang Sanatana Dharma, telah mampu mempertahankan agama Hindu kita dari "gangguan" yang dipaksakan, diplesetkan, diputarbalikkan, dimentahkah, diolok-olok, dicemooh, yang memiliki tujuan jelas, yaitu menidakjelaskan keberadaan agama Hindu itu sendiri, dengan tidak jelasnya keberadaan agama Hindu secara filosofi membuat umat semakin kebingungan, kebimbangan akan keyakinan, ketidak berdayaan dalam menjawab "gangguan" tersebut.

Tidak hanya dari golongan kakek-nenek, dewasa, remaja, ibu-ibu, bahkan sampai pada  kalangan anak-anak "gangguan" itu selalu datang, menyerang, menusuk dari belakang, menghipnotis melalui sinetron, meniupkan ketidakpastian. Tiupan semakin "mesra" dengan kebaikan-kebaikan yang diciptakan dalam kesemuan.

Umat Hindu seharusnya mengejar kwalitas spiritual dibandingkan popularitas di masyarakat, agama yang dianut yaitu agama Hindu dikedepankan secara kwalitas umatnya, apalagi hanya sekedar menuruti hati wanita, sekedar mendapatkan sanjungan, sekedar mendapatkan kebahagiaan duniawi, atau berlimpah dalam harta kekayaan, kita "nyebrang" dan berbalik menyerang.


Tetap semangat - Aku Bangga Beragama Hindu -
(RANBB)

Jumat, 26 Juli 2013

Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional

Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional XII Tahun 2014 di Palangkaraya
Umat Hindu Indonesia. Utsawa Dharma Gita merupakan kegiatan peningkatan Srada dan Bhakti umat Hindu di Indonesia. Utsawa berarti festival atau lomba,sedangkan Dharma Gita adalah nyanyian suci keagamaan, dengan demikian Utsawa Dharma Gita adalah festival atau lomba nyanyian suci keagaman Hindu. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional XII tahun 2014 akan diselenggarakan di Palangkaraya Kalimatan Tengah.

 Tema Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional XII tahun 2014 adalah :

"MELALUI UTSAWA DHARMA GITA TINGKAT NASIONAL XII KITAMANTAPKAN PEMAHAMAN, PENGHAYATAN DAN PENGAMALAN AJARAN  SUCI WEDA DALAM RANGKA MEMPERKOKOH PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA."

Ustawa Dharma Gita (UDG) Tingkat Nasional yang akan diselenggarakan di Palangkaraya Kalimatan Tengah tahun 2014 akan datang disambut baik oleh pasraman-pasraman yang ada di Indonesia.

Pelaksanaan Utsawa Dhama Gita Tingkat Nasional berlangsung di :

  1. Utsawa Dhama Gita Tingkat Nasional I dilaksanakan di Denpasar, Bali pada 1978.
  2. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional II berlangsung di Denpasar pada 1979.
  3. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional III juga berlangsung di Denpasar pada 1980
  4. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional IV berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakartapada 1991.
  5. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional V dilaksanakan di Solo Surakarta, Jawa Tengah, pada 1993.
  6. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional VI dilaksanakan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah pada 1996.
  7. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional VII dilaksanakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada 2000.
  8. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional VIII dilaksanakan di Mataram, Nusa Tenggara Barat pada 2002
  9. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional IX dilaksanakan di Bandar Lampung, Lampung pada 2005.
  10. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional X dilaksanakan di Kendari, Sulawesi Tenggara pada 2008.
  11. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional XI, dilaksanakan di Art Centre Denpasar Bali pada 2011
Admin mencoba menelusuri persiapan daerah melalui media online, daerah yang telah melaksanakan Utsawa Dharma Gita tingkat daerah diantaranya; Utsawa Dharma Gita (UDG) V tingkat Propinsi Nusa Tenggara Timur, Utsawa Dharma Gita VI Prov. Sulawesi Selatan, Utsawa Dharma Gita Propinsi Jawa Tengah,

Umat Hindu di Propinsi Sulawesi Tengah sedang mempersiapkan pelakasanaan Utsawa Dharma Gita tingkat propinsi yang akan digelar bulan Agustus 2013.


Dari berbagai sumber (RANBB)

Jambore Nasional Pasraman Umat Hindu se Indonesia

Umat Hindu Indonesia. Jambore Nasional Pasraman (JamNas) merupakan media bagi umat Hindu bagi siwa-siswi dari kalangan umat Hindu untuk meningkatkan persahabatan, saling tukar menukar pengalaman dan pengetahuan yang berasal dari berbagai daerah. Jambore Nasional Pasraman pertama tahun 2010, kedua tahun 2012 di Jakarta.

Pasraman berasal dari kata “asrama” (sering ditulis dan dibaca ashram) yang artinya tempat berlangsungnya proses belajar mengajar atau pendidikan. Pendidikan pasraman menekankan pada disiplin diri, mengembangkan akhlak mulia dan sifat-sifat yang rajin, suka bekerja keras, pengekangan hawa nafsu dan gemar untuk menolong orang lain.

Jambore Nasional Pasraman dimaknai sebagai ajang kompetisi untuk meningkatkan pengetahuan, persaudaraan dan toleransi. Tujuan dari kegiatan itu sebagai sarana untuk saling tukar menukar pengalaman para pelajar, mengingat umat Hindu yang tersebar di berbagai daerah memiliki latar belakang budaya dan pengalaman berbeda pula.

Selama kegiatan itu berlangsung akan diisi lomba mantram tri sandhya, kramaning sembah, yoga asanas. Termasuk cipta lagu kreasi keagamaan, pantun dan outbound.
Persiapkan diri untuk ke Jambore Nasional Pasraman selanjutnya.

(RANBB)

Kamis, 25 Juli 2013

5 Principles & 10 Disciplines | The Basics of Hinduism

5 Principles & 10 Disciplines
The Basics of Hinduism

What are the main principles of the Hindu way of life? And what are the 10 commandments of Sanatana Dharma? Read these 15 easy-to-remember basic tenets of Hinduism as summarized by Dr. Gangadhar Choudhury:

5 PRINCIPLES
1. God Exists: One Absolute OM.
    One Trinity: Brahma, Vishnu, Maheshwara (Shiva)
    Several divine forms
2. All human beings are divine
3. Unity of existence through love
4. Religious harmony
5. Knowledge of 3 Gs: Ganga (sacred river), Gita (sacred script), Gayatri (sacred mantra)

10 DISCIPLINES
1. Satya (Truth)
2. Ahimsa (Non-violence)
3. Brahmacharya (Celibacy, non-adultery)
4. Asteya (No desire to possess or steal)
5. Aparighara (Non-corrupt)
6. Shaucha (Cleanliness)
7. Santosh (Contentment)
8. Swadhyaya (Reading of scriptures)
9. Tapas (Austerity, perseverance, penance)
10. Ishwarpranidhan (Regular prayers)

Sumber :
http://hinduism.about.com/od/basics/a/principles.htm

Pasraman Tirta Bhuana Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi

Umat Hindu Bekasi. Pasraman Tirta Bhuana Jl. Jatiluhur Raya No 1, Jaka sampurna, Bekasi Barat, Kota Bekasi, Jawa Barat,  merupakan lembaga pendidikan agama Hindu yang didirikan pada Tahun 1988 diwilayah kota Bekasi dengan pertimbangan untuk mengatasi kesulitan dalam mendapatkan nilai agama Hindu bagi siswa/siswi yang disekolah umumnya tidak memiliki Guru Agama Hindu.

 VISI

PASRAMAN TIRTA BHUANA MENUJU PESERTA DIDIK YANG BERPRESTASI, BERBUDI PEKERTI LUHUR DAN BERAHKLAK MULIA DENGAN DILANDASI OLEH NILAI-NILAI DASAR AGAMA HINDU

 MISI

 PASRAMAN TIRTA BHUANA Membentuk peserta didik yang berahlak mulia dan berbudi pekerti luhur berdasarkan nilai-nilai ajaran agama Hindu. Meningkatkan prestasi dibidang pengetahuan agama Hindu Meningkatkan kemampuan di bidang baca Sloka, Palawakya ,kidung, Kekawin dan Upakara Yadnya; Meningkatkan wawasan lingkungan berdasarkan ajaran Tri Hitakarana.

TUJUAN

PASRAMAN TIRTA BHUANA Tujuan Pasraman Tirta Bhuana sebagai bagian dari tujuan Pendidikan Nasional adalah membantu peserta didik agar mampu mewujudkan nilai-nilai dasar agama Hindu dan kebudayaan Hindu dalam menerapkan ilmu pengetahuan , teknologi dan Seni yang dikuasainya dengan rasa tanggungjawab.
Lebih lengkap @ http://pasramantirtabhuana.blogspot.com

(RANBB)

Pasraman Jnana Sila Bhakti Batam

Umat Hindu Batam. Pasraman Jnana Sila Bhakti Batam; Pasraman Hindu Kota Batam didirikan oleh PHDI Kota Batam adalah sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pendidikan agama Hindu khususnya untuk anak-anak di usia sekolah. Pasraman Hindu Kota Batam pada tahap awalnya baru mengakomodir kebutuhan siswa SD, SMP, SMU/SMK dan Perguruan Tinggi yang secara formal harus mendapatkan pendidikan agama Hindu. Jadi semua siswa SD, SMP, SMU/SMK dan perguruan tinggi di Batam, diwajibkan untuk mengikuti pendidikan Agama Hindu di Pasraman Hindu Kota Batam. Dalam tahapan berikutnya nanti diharapkan Pasraman Hindu Kota Batam juga berfungsi sebagai pusat pendalaman dan pengkajian Agama Hindu yang bisa dinikmati oleh seluruh umat Hindu di Batam pada khususnya dan umat di Provinsi Kepulauan Riau umumnya.

Kegiatan belajar dan mengajar dilangsungkan setiap hari Minggu di kawasan Pura Agung Amertha Buana Sei Ladi dari jam 09.00 pagi sampai jam 12.30. Untuk saat ini Pasraman Hindu Kota Batam memiliki sembilan tenaga pengajar/ Guru. Pembiayaan operasional Pasraman diperoleh dari dana bantuan Pemerintah Pusat maupun Daerah dan dari swadaya umat yaitu baik dengan menerima sumbangan pendidikan maupun sumbangan dari para donatur.

Visi dan Misi

Dengan mengacu pada Peraturan Menteri Agama No. 8 Tahun 2006 tentang Visi dan Misi Departemen Agama ,maka Pasraman Jnana Sila Bhakti Batam  menjelaskan:

Visi :

Terwujudnya Masyarakat Modern Yang Agamis Dalam Wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Misi :

  1. Meningkatkan Kualitas Bimbingan, Pemahaman, Penghayatan dan Pengamalan Agama Hindu
  2. Meningkatkan Pelayanan Kehidupan Beragama Hindu;
  3. Meningkatkan Kualitas Pendidikan Agama Hindu;
  4. Pemberdayaan Lembaga Sosial Keagamaan Dan Lembaga Pendidikan Agama Dan Keagamaan Hindu;
  5. Memperkokoh Kerukunan Intern Umat Beragama Hindu;
  6. Mengembangkan Seni Dan Budaya Hindu.

sumber lebih lengkap kunjungi : http://www.pasramanjsb.com

Rabu, 24 Juli 2013

Maha Kumbh Mela Upacara Agama Hindu Terbesar di Dunia

Umat Hindu India. Perayaan Kumbh Mela merupakan upacara agama Hindu terbesar di dunia yaitu upacara mandi di Sungai Gangga. Dalam upacara yang bertujuan membersihkan dosa di Sangam, tempat bertemunya tiga sungai suci, yakni Gangga, Yamuna dan Saraswati. Upacara mandi ritual hari Minggu itu diyakini sebagai hari paling suci dalam perayaan agama Hindu itu.

Penganut Hindu yang taat sangat percaya bahwa Sungai Gangga memegang kekuasaan untuk menghilangkan dosa-dosa masa lalu. Sungai itu juga dianggap mampu membebaskan individu dari lingkaran hidup dan mati  atau akan mencapai moksha dan membawa mereka lebih dekat dengan yang maha tinggi (Braham).

Perayaan Kumbh Mela, diadakan setiap 12 tahun di Allahabad, negarabagian Uttar Pradesh India. Kumbh Mela adalah sebuah ritual ziarah yang dilaksanakan oleh umat Hindu di India setiap 12 tahun sekali. Perayaan berikutnya pula akan hanya disambut pada tahun 2022.

Tradisi ziarah ini meliputi 4 lokasi: Allahabad (Prayag), Haridwar, Ujjain dan Nashik di India. Ziarah 12 tahun sekali ini dinamakan juga Maha Kumbh Mela (Kumbh Mela Besar) yang dilaksanakan di Prayag, yang dihadiri sehingga 60 juta orang. Hingga saat ini, inilah satu-satunya tradisi yang berjaya mengumpulkan pengunjung paling banyak di dunia dalam satu waktu sekaligus.

Sama sekali tidak ada rasa segan ketika jutaan orang berjalan dalam keadaan tanpa busana melintasi sungai Gangga yang merupakan sungai suci bagi masyarakat India. Kumbh Mela adalah ziarah utama di mana orang-orang, terutama orang-orang suci (Sadhu), melakukan perjalanan jauh dan dengan ritual ini, mereka berkesempatan untuk menyucikan dosa-dosa mereka.

Dari berbagai sumber (RANNB)

Pura Agung Amerta Bhuana Batam

Pura Agung Amerta Bhuana Batam

Umat Hindu Batam. Umat Hindu di Pulau Batam harus juga bangkit menghadapi perkembangan ekonomi, politik dan pembangunan yang demikian pesat dibandingkan dengan daerah lain di kepulauan Riau. Persiapan ini direncanakan secara matang dan menyeluruh dari segi materiil maupun spiritual, untuk menunjang Kota Batam menjadi Bandar Dunia yang madani.

Saat ini di Kota Batam telah tersedia sarana ibadah umat Hindu yaitu Pura Agung Amerta Bhuana yang letaknya sangat strategis nyegara gunung dengan hamparan pemandangan alam yang indah. Di sekitarnya terhampar Danau Sei Ladi dan Selat Malaka.

Pura Agung Amerta Bhuana dibangun dengan pertimbangan pertimbangan secara aspek
  1. Bentuk bangunan pura yang berornamen Hindu klasik yang digabungkan dengan konsep modern akan memperkaya Pulau Batam sebagai salah satu gerbang pariwisata di Indonesia bagian barat laut menjadi miniatur kebhinekaan Indonesia.
  2. Sebagai tempat beribadat bagi umat Hindu di Batam khususnya dan umat Hindu didunia pada umumnya dengan salah satu bangunan monumental yang akan menjadi memiliki nilai nilai sejarah yang akan datang.
  3. Berdasarkan sejarah yang telah ada, Pura Agung Amerta Bhuana juga diharapkan sebagai sarana peribadatan yang merupakan khasanah untuk melestarikan nilai nilai budaya suatu bangsa.
  4. Memperkaya atraksi pariwisata , dimana arsitektur yang bernuansa Hindu merupakan salah satu dari komponen pariwisata budaya.

sumber : http://www.hindubatam.com

Piodalan Pura Giri Arjuno Kota Batu Malang Jawa Timur

Piodalan Pura Giri Arjuno Diikuti Umat dari Bali

Umat Hindu Malang. Acara piodalan Pura Giri Arjuno ke V di Desa Giripurno Kota Batu, Senin (22/7/2013), dihadiri sejumlah warga asal Pulau Dewata Bali. Mereka berbaur dengan ratusan umat hindu dari berbagai daerah, untuk mengikuti doa bersama dipimpin oleh Pinandita Mangku Suparman.

Ketua panitia Piodalan, Tri Suhasto menyebutkan ada dua rombongan bus dari Bali. Tujuan mereka datang, memang berkunjung ke pura-pura untuk sembahyang. Piodalan digelar bertepatan dengan purnama kasa yang jatuh pada Senin (22/7/2013) dan diikuti sekitar 500 umat. “Diperkirakan pura ini ramai dikunjungi umat Hindu, hingga dua hari ke depan,” terang Suhasto.

Umat Hindu mulai bersembahyang pukul 11.30 WIB hingga pukul 12.30 WIB. Dengan khidmat, baik perempuan maupun laki-laki duduk bersila di dalam pura memanjatkan doa-doa.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jatim, I Ketut Sudiarta menceritakan, Pura Giri Arjuno itu terletak di pertengahan Gunung Arjuno 1.600 meter di atas permukaan laut (dpl). Pura itu beridiri sejak 1998, dibangun oleh para resi, tokoh umat Hindu di Malang Raya. "Yang perlu diketahui, kehadiran pura ini sudah tersosialisasi sampai seluruh nusantara. Hampir tiap hari Sabtu dan Minggu, warga Hindu dari berbagai belahan Indonesia ke pura ini,” paparnya.

Ketut berharap, piodalan kali dijadikan media mengintegrasikan perbedaan antar umat Hindu. Mulai romo resi, pemangku, dan umat biasa supaya umat Hindu selalu sehat walafiat, sejahtera, bahagia. "Bagaimana kita umat Hindu, baik dari Jawa, luar Jawa, Bali,  semua umat Hindu yang hanya dibedakan oleh wilayah, budaya, dan tata cara, mari kita memahami perbedaan itu. Kalau kita memahami itu, perbedaan memberi kekuatan dan membentuk hidup harmonis,” harapnya.

sumber : http://surabaya.tribunnews.com

Pura Mandara Giri Semeru Agung Jawa Timur

Umat Hindu Jawa Timur. Pura Mandara Giri Semeru Agung adalah pura yang sangat diagungkan oleh masyarakat pulau jawa. Terletak di desa Senduro 17 km dari kota Lumajang Jawa Timur dan 39 km dari desa Ranupani lereng gunung semeru. Disamping pura ini sangat besar serta menjadi pusat keagaaman umat hindu bahkan orang bali berbondong-ondong ketempat tersebut. Pura ini dibangun pada tahun 1991, latar belakang pemilihan lokasi Pura Mnadara Giri Semeru Agung di kaki Gunung Semeru berkaitan dengan mite pemindahan puncak Gunung MahamĂšru dari India ke Jawa dengan maksud agar Pulau Jawa tidak jungkat-jungkit, sebagaimana dikisahkan dalam naskah Tantu PanggĂȘlaran.

Dengan demikian Gunung Semeru dianggap suci oleh masyarakat Jawa sejak dahulu.
Gaya, struktur dan komponen-komponen arsitekturnya mengikuti gaya arsitektur pura-pura di Bali, yaitu arsitektur trdisional Bali yang masih mengikuti gaya arsitektur zaman kerajaan Majapahit. Gaya arsitektur ini dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dengan dasar-dasar filsafat dalam ajaran agama Hindu. Landasan filosofis arsitektur terteliti dipaparkan dengan latar belakang alam pikiran keagamaan pemangkunya, yaitu agama Hindu, yang visualisasinya tergambarkan pada tata ruang (tata letak), bentuk bangunan dan bahan bangunan yang digunakannya.

Jika Umat Hindu ingin ke Pura Mandara Giri Agung Semeru dengan transportasi umum, maka ada dua versi perjalanan pertama jika dari Jakarta anda harus menuju malang transit di desa tumpang  dengan menaiki mobil jeep atau truk lalu menuju lereng gunung semeru yaitu desa ranupani yang berjarak 43 km dari tempat tersebut. Sesampainya di ranupani dilanjutkan ke Pura Mandara Giri Agung Semeru yang berjarak 39km dengan menyewa mobil melalui jalan yang berliku dan cukup rusak serta kanan kiri dikelilingi hutan.

Dari belahan Indonesia manapun hanya perlu ke Surabaya terlebih dahulu kecuali yang disekitar Jawa Timur, setelah itu dari terminal bus Surabaya silahkan mengambil jalur bus yang menuju Banyuwangi atau Jember. Perjalanan dengan bus dari Surabaya akan menempuh waktu kurang lebih 4 jam. Sampai di terminal Lumajang (Wonorejo) dilanjutkan naik angutan umum kearah Lumajang kota dan turun di Klojen. Dari situ banyak angkutan ke Senduro dengan mobil Elf. Naik saja turun di Pura Mandara Giri Agung Semeru. Perjalanan ke Senduro dari Klojen Lumajang ditempuh sekitar 1 jam.

sumber : http://www.majalahinspirasi.net

#### Mohon klik Share untuk mendukung blog ini ####

Selasa, 23 Juli 2013

Pura Agung Wira Loka Natha Cimahi Jawa Barat

Umat Hindu Jawa Barat. Pura Agung Wira Loka Natha merupakan pura tertua yang ada di Bandung Raya. Pendirian pura ini berawal dari gagasan Pusdikarmed (Pusat Pendidikan Artileri Medan) di kota administratif Cimahi, yang ingin mendirikan tempat ibadah semua agama untuk kepentingan ibadah para siswanya. Salah satunya adalah Pura. Jarak dari pusat kota Bandung ke Pura tersebut sekitar 47 km.

Pada perkembangannya, pura ini tak hanya diperuntukkan bagi siswa Pusdikarmed, karena di wilayah Cimahi terdapat pusat pendidikan militer yang lain, seperti Pusdikbekang, Pusdik Infanteri dan lain-lain. Pembangunan tempat ibadah pun akhirnya dikoordinasikan oleh Kodiklat TNI AD. Kemudian Kapten Ketut Koyer dari Bina Rohani Kodiklat AD mengkoordinasikan gagasan ini dengan warga Hindu se-Bandung Raya.

Panitia pembangunan pura ini diketuai oleh Ida Bagus Sudjana. Pura dibangun secara swadaya oleh TNI AD dan masyarakat, serta mendapat dukungan pemerintah daerah setempat, Presiden RI, menteri agama dan bantuan dana dari dinas rohani Angkatan Darat, beberapa Pangdam (termasuk Pangdam Udayana) dan terutama warga Hindu se-Jawa Barat. Tahun 1976 dilakukan peletakan batu pertama, yang khusus diambil dari Gunung Tangkuban Parahu. Hal ini dilakukan karena Warga Hindu meyakini bahwa tempat tinggi adalah tempat yang suci. Setelah sekitar dua tahun pembangunan, pada 14 Juli 1978 pura ini diresmikan oleh Dan Jen Kobangdiklat Mayjen TNI Alex Prawiraatmadja. Namun secara ritual Hindu, pura ini diresmikan pada 15 Juli 1978 bertepatan dengan Hari Raya Saraswati, yang merupakan hari turunnya kitab suci Wedha dan turunnya ilmu pengetahuan. Pura ini diresmikan oleh Pedanda Gde Oka Telaga dengan upacara Ngenteg Linggih dan diberi nama Pura Agung Wira Loka Natha.

sumber http://www.bandungtourism.com

Umat Hindu Klaten Melaksanakan Tirta Yatra ke Candhi Merak

Upacara Tirta Yatra Ing Candhi Merak

Umat Hindu Klaten. Puluhan lare pangrasuk Agami Hindu, warganing Pasraman Saraswati, Desa Pasung, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten ngadani Upacara Tirta Yatra utawi  lampah suci dhateng situs Candhi Merak, ingkang dumunung ing Kecamatan Karangnongko, Klaten. Ancasing upacara kangge nyaketaken dhiri utawi bakti dhateng Sang Hyang Widi sarta kangge njurung raos tresna lare dhateng benda cagar budaya.

Upacara Tirta Yatra, ajeg dipun tindakaken dening Umat Hindu, makaten ugi  lare-lare pangrasuk Agami Hindu warganing Pasraman Saraswati, Desa Pasung, Kecamatan Wedi. Upacara Tirta Yatra padatanipun dipun adani ing papan ingkang suci, antawisipun pura, candhi lan sawetawis cagar budaya tilaran leluhur. Bimas Hindu Kemenag Klaten Suyamto ngandharaken, ancasipun ngadani Upacara Tirta Yatra dhateng Candhi Merak kangge nepangaken lare-lare dhateng benda cagar budaya supados lare wanuh dhateng cagar budaya satemah saged ngaosi, lan nresnani budayanipun. Ing kalodhangan kasebat ugi dipun adani upacara puja bakti, pralambang kewajiban pangrasuk agami kangge ngibadah.

Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Kecamatan Wedi, I Ketut Ketis ngajab Upacara Tirta Yatra sageda dados beteng menggahing  wiranem kangge nebihi lampah nalisir, antawisipun kangge ngawekani penyalahgunaan narkoba, kenakalan remaja sarta  pergaulan bebas.

sumber : www.jogjatv.tv

Tradisi Ngiring Pekuluh Saat Pujawali Umat Hindu Jakarta

Pujawali Pura Amrtha Jati Cinere (22/7).
Umat Hindu Jakarta. Tradisi Ngiring Pekuluh setiap Pujawali  Umat Hindu Jakarta, Bogor, Bekasi dan Banten merupakan tradisi "ngelunganin" pada pujawali salah satu Pura di lingkungan wilayah ini. Ini sedikit berbeda dengan pujawali di Bali. Namun hal ini juga terjadi di Bali saat pujawali besar di Pura Besakih, pada saat Bhatara Turun Kabeh atau pada satu dua pura yang mempunyai ciri khusus. Lihat foto pura se Jabodetabek

Di Jakarta sudah menjadi tradisi bahwa pekuluh pura-pura di Jakarta dan sekitarnya ini lunga ke iring para umat penyungsungnya, ke Pura yang sedang katuran Pujawali. Ibarat kata  berkunjung ke rumah teman yang sedang berulang tahun. Untuk maksud tersebut biasanya dibuatah "asagan" untuk linggih Pekuluh dan Daksina Palinggih sane rawuh. Daksina Palinggih dihias dengan bunga anggrek, crysiam, dilengkapi pula daksina, pucuk daun sirih dan dupa.

Bila kita perhatikan Pura di Jakarta dan sekitarnya terdapat pelinggih Bale Papelik. Bale Papelik ini berfungsi untuk tempat Daksina Pelinggih yang rawuh.

Seperti halnya pada Pujawali Pura Amrtha Jati Cinere pada Purnama sasi Kasa ini, pada tanggal 22 Juli 2013, umat Hindu Ciledug yang sebagai pengempon Pura Dharma Sidhi melaksanakan tradisi ini. Diawali dengan pembuatan asagan Daksina Palinggih linggih Ida Bhatara Sesuhunan Kahyangan Pura Dharma Sidhi, kemudian persembahyangan sebelum keberangkatan ke tempat pujawali, dan setelah kembali dari tempat pujawali kita ngeluhuring Ida Bhatara di pura masing-masing.

Tradisi ini sangat bermanfaat bagi umat Hindu di dalam meningkatkan Srada dan Bhakti-nya, meningkatkan rasa memiliki Pura Kahyangan di wilayah ini, meningkatkan rasa menyama braya, dan meningkatkan solidarias umat. Sagilik Saguluk Paras Paros Sarpanaya menyama Braya di daerah rantauan.

Silakan Lihat Video Tradisi Ngiring Pekuluh umat Hindu di Jakarta.

(RANBB)

Senin, 22 Juli 2013

Motivasi dari Cendekiawan Hindu dan Tokoh Umat Hindu

Umat Hindu Indonesia. Cendekiawan Hindu seperti Swami Vivekananda, Swami Lakshmi Shankarasharya, Sri Svami Sivananda, Swami Rama Tirtha, dan tokoh-tokoh Umat Hindu yang memberikan motivasi-motivasi tentang Agama Hindu sehingga dapat menjadi panutan, tuntunan  umat Hindu di seluruh dunia dalam menjalankan Dharma.

Blog Semangat Hindu mencoba merangkumnya dalam bentuk file image, silakan lihat disini : http://www.flickr.com/photos/semangathindu/

Berikut beberapa kutipannya.

Selama seseorang berseru ' Ya Tuhan Ya Tuhan' pastikan bahwa ia belum menemukan Tuhan, karena siapapun yang telah menemukan Dia menjadi diam  - Sri Ramakrishna Paramahansa (1836-1886)
Kebenaran tidak hanya Abadi tetapi juga tak terbatas. Sanatana Dharma sangat sederhana dan alami karena didasarkan pada Hukum Alam - Swami Rama Tirtha (1873-1906)

Kutemukan Tuhan Yang Mencintai Semua Orang ; Perjalanan menuju jalan Dharma - Gentha Apritaura
Jangan melekat pada badan fana, tetapi gunakanlah sebagai alat. Pandanglah dirimu sebagai terpisah dari badan yang mudah rapuh dan rusak ini - Sad Guru

Sebenarnya di mana Tuhan dimeditasikan itulah tempat dan waktu terbaik - Sad Guru
Kehadiran Tuhan bisa diketahui di dalam nafas dengan mempertahankan pinti So Ham - Sad Guru
Kebaikan terbesar adalah kasih sayang. Kasih sayang merupakan dasar dari karakter
Manasa Bhajare Guru Charanam ; Pujalah Guru di dalam hati - Sad Guru
Aku adalah Atma yang berdiam dalam hati setiap insani, wahai Gudakesa. Aku adalah permulaan, pertengahan dan akhir dari semua Makhluk - Bhagawadgita, x.20

Tamaso Maa jyotir Gamaya ; Bimbinglah saya dari kegelapan ke dalam cahaya
Tujuan semua sadhana adalah membakar semua samskara - Sri Svami Sivananda
Penderitaan berada hanya dalam pikiran - Sri Svami Sivananda
Jangan menyimpan informasi-informasi yang tidak berguna dan negatif dalam pikiran Anda - Sri Svami Sivananda

Jika pikiran diam dan hening, sabda Tuhan bisa didengar - Sad Guru
Belajarlah untuk mengirimkan pikiran-pikiran yang membantu, yang penuh kasih sayang pada yang lain dan seluruh dunia secara umum - Sri Svami Sivananda
Jalan yang terbaik untuk menyenangkan Tuhan adalah melihat Tuhan dalam semua mahluk dan melayani mereka seperti engkau melayani Tuhan - Sad Guru

Semoga tokoh-tokoh yang lain seperti Para Rsi, Maharsi, Acarya, Swami, Brahmacari, para Jivanmukta, juga para Guru, Rohaniawan, Cendekiawan, Pedanda, Pinandita, Pandit, Pujangga, pembimas Hindu, dan lainnya dapat pula memberikan motivasi pada umat.
Kunjungi Aneka Motivasi Hindu disini :
http://www.flickr.com/photos/semangathindu/

(RANBB)

Bulan Suci Umat Hindu digelar Upacara Vaikasi Maha Puja Di

Umat Hindu India. Upacara Vaikasi Maha Puja Di atau ritual tolak bala di Kuil Shri Mariamman Pematangsiantar merupakan ritual guru dan tokoh agama Hindu dengan acara ritual berupa tusuk pipi dan berjalan di atas pedang. Di aliran sungai, umat Hindu membuang bunga Sakti Kargem (sesajen). Lalu merangkai bunga Puspa Kargem, yang diartikan sebagai persembahan untuk Dewi, serta diarak keliling kota hingga ke Kuil Shri Mariamman, Jalan Diponegoro Belakang Nomor 21 B, Siantar Barat. Ritual ini dilaksanakan bergilir di 20 Kuil Shri Mariamman di seluruh Sumut secara rutin dilakukan guru dan tokoh agama Hindu.
Pada ritual Vaikasi Maha Puja Di, seorang pemuda ditusuk pipi kiri hingga menembus pipi kanannya. Ini termasuk salah satu syarat ritual. Selanjutnya, seorang pria berbadan tegap seperti kerasukan dan mampu berdiri serta berjalan di atas pedang tajam sambil mencambuk dirinya sendiri.

Upacara Vaikasi Maha Puja Di ini dilaksanakan peringatannya setiap bulan Adi (bulan dalam agama Hindu). Bulan Adi Maso adalah bulan suci untuk umat Hindu. Seperti bulan Ramadan bagi umat Islam.

Di setiap bulan Adi, katanya, umat Hindu selalu menggelar ritual sembari memanjatkan doa, menghantar sesajen untuk memohon kemakmuran negeri, dan tolak bala. Upacara ini disebut Vaikasi Maha Puja, di mana umat Hindu Kuil Shri Mariamman memanjatkan doa dan sembahyang selama dua hari. Di hari ketiga, umat Hindu menggelar arak-arakan menuju sungai untuk membuang bunga Sakti Kargem di sungai. Syaratnya memang harus dibuang di sungai, karena di dalam kendi tempat bunga Puspa Kargem dimuat, terdapat air sungai. Setelah bunga Sakti Kargem dibuang, maka pelaksana ritual dan tokoh agama merangkai bunga Puspa Kargem yang terdiri atas bermacam bunga dan dedaunan yang ditata indah. Setelah Puspa Kargem rampung, puluhan dupa yang sudah dibakar ditancapkan ke bunga sambil diarak. Ini adalah bulan suci kami,  momen ini sangat pas untuk memanjatkan doa mohon berkat dari Dewa dan meminta agar jangan sampai menerima bala. Upacara ini juga diikuti umat Hindu dari Medan, Deliserdang, Tebingtinggi dan Pematangsiantar.

Dari berbagai sumber (RANBB)

Minggu, 21 Juli 2013

Pasraman Ganesha Brahmachari Ashram Jawa Barat

Umat Hindu Jawa Barat. Pasraman Ganesha Brahmachari Ashram terletak di Pura Angkasa Amertha Dharma Jati, Komplek Lanud Atang Sendjaja, Jl. Raya Semplak, Salabenda- Bogor, Jawa Barat.

Visi Pasraman Ganesha Brahmachari Ashram  :
Terwujudnya Sumber Daya Manusia Hindu Yang Berkualitas,Berbudi Pekerti Luhur,  Berdaya Saing Tinggi dan Tangguh Dilandasi Filosofi “VASUDHAIVA KUTUMBAKAM”

Misi Pasraman Ganesha Brahmachari Ashram :
  1.     Membentuk Sisya yang cerdas, terampil dan berbudhi luhur
  2.     Menuntun Sisya agar mampu memahami tentang ajaran Veda melalui metode Sad Dharma.
  3.     Mendidik Sisya agar mampu membiasakan diri berperilaku agamis dalam kehidupan sehari-hari.
  4.     Meningkatkan Sumber Daya manusia melalui 3 tertib : Tertib Waktu, Tertib Belajar dan Tertib Bersih
  5.     Membangun sistem kerja yang baik dan saling mendukung satu dengan yang lain.
  6.     Menciptakan suasana yang agamis dan kekeluargaan di lingkungan Pasraman.

Surat Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha Nomor : DJ.V/92/SK/2003 Tentang Penunjukan Parisadha Hindu Dharma Indonesia, Pasraman, Sekolah Minggu Agama Hindu sebagai Penyelenggara Pendidikan Agama Hindu Tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi.

sumber : http://ganeshabrahmachariashram.blogspot.com/

Hinduisme, Kuil, Pura, Candi

Umat Hindu Indonesia. Hinduisme adalah salah satu agama tertua di dunia, dan memiliki lebih dari 900 juta pengikut di seluruh dunia. Meskipun sebagian besar umat Hindu tinggal di India, ada juga sejumlah pengikut Hindu dengan jumlah yang cukup banyak di Nepal, Bangladesh dan negara kita, Indonesia.

Bangunan Hindu di India dimulai hampir 2000 tahun yang lalu dan menandai transisi Hindu dari agama Veda. Arsitektur kuil Hindu telah berkembang dan terdiri dari berbagai macam gaya.

Kuil-kuil Hindu biasanya didedikasikan untuk salah satu Dewa Hindu utama dan mengandung Murti (citra suci) dari Dewa. Walaupun tidak wajib bagi seorang Hindu untuk mengunjungi sebuah kuil Hindu secara teratur, kuil-kuil tetap memainkan peran penting dalam masyarakat dan budaya Hindu.

Pura adalah istilah untuk tempat ibadah agama Hindu di Indonesia. Pura di Indonesia tidak hanya terkonsentrasi di Bali sebagai pulau yang mempunyai mayoritas penduduk penganut agama Hindu, tetapi juga dalam setiap propinsi sudah memiliki Pura Jagadnatha atau pura umum. Beberapa kabupaten atau kota madya di Indonesia sudah terdapat pura yang diempon oleh umat Hindu yang bukan saja dari Bali, tetapi juga umat setempat yang beragama Hindu.

Candi merupakan bangunan replika tempat tinggal para dewa yang sebenarnya, yaitu Gunung Mahameru. Karena itu, seni arsitekturnya dihias dengan berbagai macam ukiran dan pahatan berupa pola hias yang disesuaikan dengan alam Gunung Mahameru.
Candi adalah sebuah bangunan keagamaan tempat ibadah peninggalan purbakala yang berasal dari peradaban Hindu-Buddha, dan hingga kini tetap dipergunakan untuk kegiatan keagamaan oleh Umat Hindu atau pun Umat Budha.

(RANBB)

Pengertian Ritual dan Yajna dalam Agama Hindu

Umat Hindu Indonesia. Ritual adalah seni penuh warna untuk memuja Tuhan. Dua ritual yang paling populer adalah Puja dan Yajna. Puja adalah yang paling umum dari ritual.
Weda tidak bicara tentang Puja, yang berisi bentuk-bentuk terinci dari pemujaan di rumah atau di pura. Satu bagian utama dari ritual ini adalah persembahan yang dibuat dari banyak bahan yang disebut Upacara (persembahan dengan pernuh hormat, offering with honor) kepada Tuhan.
Upacara terdiri dari makanan, air wangi, daun-daun Tulsi, bubuk cendana, dupa, bunga, abu dan baju. Orang yang melakukan atau memimpin Puja di pura di sebut Pujari. Arati adalah bagian lain yang penting dari upacara Puja. Ia adalah ritual biasa mengayunkan (waving) cahaya di depan patung Tuhan.
Setelah Puja, kepala rumah tangga atau Pujari membagikan persembahan kepada Tuhan, disebut Prasad, kepada para bhakta yang lain. Prasad terdiri dari makanan dan tepung daun-daunan.

Yajna dilakukan pada altar yang dibangun sementra (asagan, sanggah cucuk,pen) sesuai dengan hukum-hukum Tantra. Altar-altar ini dibuat khusus untuk Yajna, dan segera setelah Yajna selesai altar ini dihancurkan.

Yajna tidak melibatkan citra atau patung Tuhan. Yantra yang khusus (bentuk geometrikal yang komplek) di gambar di atas altar dan Yantra ini mempersonifikasikan Dewa yang dipuja. Kebanyakan ritual Yajna melibatkan japa simultan oleh banyak pendeta.

Ada dua jenis Yajna, satu dilakukan secara khusus untuk kesejahteraan umum dan yang satu lagi untuk kebaikan keluarga. Yajna untuk umum biasanya disponsori oleh raja, tapi sekarang disponsori oleh beberapa manajemen pura dan organisasi sosial keagamaan.

Yajna biasanya dilakukan untuk kesejahteraan material manusia. Tentu saja dengan melaksanakan Yajna, seorang manusia secara tidak langsung akan dibawa makin dekat kepada Tuhan, karena ia secara sepenuhnya memahami kekuasaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

sumber : http://okanila.brinkster.net

Sabtu, 20 Juli 2013

Upacara Ritual Tiwah Hindu Kaharingan

Umat Hindu Kaharingan. Sapundu yaitu patung kayu yang digunakan untuk menambalkan hewan korban untuk upacara ritual Tiwah. Tiwah merupakan upacara pengantaran arwah ke Lewo tatao (alam baka) dalam agama Hindu Kaharingan di Kalimantan Tengah. Sapundu dari kayu ulin bulat yang diukir dan dipahat menyerupai manusia. Patung tersebut ada patung laki-laki, patung perempuan, patung anak-anak dan berbagai macam bentuk lainnya. Hewan korban yang diikat di patung, biasanya bertanduk misalnya kerbau atau sapi.

Ritul Tiwah adalah acara memindahkan tulang belulang nenek moyang ke dalam sandung. Pada sandung inilah tulang belulang nenek moyang yang telah meninggal beberapa tahun atau bahkan puluhan tahun yang lalu disimpan dengan aman. Pada saat pemindahan tulang ke dalam sandung sarat dengan pembacaan doa-doa yang dilakukan oleh seorang Basir dan dibantu dengan beberapa Pisor.

sumber : https://rid755.wordpress.com

Mereka Bicara Kemanusiaan, Kitab Suci Bicara Tuhan

Umat Hindu Indonesia.
Ada dua diri yang meminum buah dari Karma di dunia dari perbuatan-perbuatan baik. Keduanya berdiam di tempat rahasia (dalam hati), tempat dari Yang Tertinggi - Katha Upanisad I.3.1

Seseorang dapat hidup tanpa benak yang benar; kita dapat melihat orang gila - Kausitaki Upanisad 3.2-3

Aku bukan guru atau Tuhan. Aku adalah engkau. Engkau adalah Aku, itulah kebenarannya. Tidak ada perbedaan. Engkau adalah gelombang. Aku adalah lautan. Ketahuilah ini dan jadilah bebas, jadilah Tuhan - Baba

Tuhan adalah perwujudan welas asih. Beliau mengamati dan mencari sebutir kebaikan atau kerendahan hati agar dapat mengganjarnya dengan berton-ton rahmat - Sad Guru

Segala mahluk merupakan bagian dari diri-KU yang abadi - Bhagawad Gita 15.7

Kasihi sesamamu karena ia adalah dirimu sendiri 'Tat Tvam Asi' - Herman Hesse - Peraih Nobel Sastra 1946

Tuhan itu halus - Albert Einstein

Di antara semua rahasia Aku adalah sepi - Bhagawad Gita x.38

Satyam Shivam Sundaram, Kebenaran Kesucian Keindahan - Hindu Dharma

Hidup adalah tantangan, hadapilah. Hidup adalah impian, sadarilah. Hidup adalah permainan, mainkanlah. Hidup adalah kasih sayang, nikmatilah. - Baba

(RANBB)

Jumat, 19 Juli 2013

Pura Tri Dharma Nata Luwu Timur Membangun Candi Gelung Kori

Umat Hindu Bangun Candi di Lutim

Umat Hindu Sulawesi. Umat Hindu di Desa Mantadulu Kecamatan Angkona menggelar upacara keagamaan dalam rangka peletakan batu pertama pembangunan Candi Gelung Kori yang berlokasi di pusat Pura Tri Dharma Nata.

Peletakan batu pertama ini dilakukan Bupati Luwu Timur, H Andi Hatta Marakarma didampingi Wakil Bupati, HM Thorig Husler, Anggota DPRD, Ketut Suantara, Kabag Kesra, Dohri As’ari, Kabag Humas, Amran Aminuddin dan Camat Angkona, Senfry Oktavianu.

Ketua Parisade Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Angkona, I Made Sumerta mengatakan pembangunan Candi Gelung Kori ini diperkirakan akan menelan anggaran sebanyak Rp 600 juta rupiah, sementara pihaknya baru berhasil mengumpulkan dana sebanyak Rp 300 juta rupiah hasil swadaya umat. Namun pihaknya optimis pembangunan candi dapat selesai sesuai waktu yang direncanakan.

“Kami juga berharap pemerintah daerah dapat ikut membantu kelancaran pembangunan candi ini,” jelas Made Sumerta.

sumber : http://makassar.tribunnews.com

Pura Agung Giri Natha Berau

Umat Hindu Balikpapan. Pura Hindu di Kalimantan Timur, diantaranya; Pura Giri Jaya Natha Balikpapan, Pura Jagat Hita Karana Samarinda dan Pura Payogan Agung Kutai.
Pura Agung Giri Natha yang terletak di jalan Raya Bangun, Kecamatan Sambaliung Kabupaten Berau, merupakan pura yang lokasinya berada di atas bukit yang namanya Gunung Lempak, dengan 78 undag (anak tangga) yang harus ditapaki, itupun baru sampai di Madya Mandala.

Pemandangan dari Madya Mandala ke arah Kota Tanjung Redeb sangatlah indah. Pura Agung Giri Natha dibangun pada tahun 1997, diresmikan oleh Bupati setempat pada tanggal 11 Nopember 2000. Pemelaspasan pertama dipuput oleh Ida Pedanda Gede Ketut Subali Tianyar Arimbawa dari Griya Sidemen, sedangkan pemelaspasan kedua setelah adanya pemugaran dipuput oleh Ida Pedanda Manuaba dari Griya Dalung. Pura Agung Giri Natha memiliki pelinggih Padmasana, Penglurah, Gedung Penyimpenan, Bale pertemuan dan mejejahitan, serta Candi Bentar yang megah pada Nista Mandala.

Umat Hindu Berau sebagai pengempon pura dalam merealisasikan berdirinya Pura Agung Giri Natha tidak pernah mengenal lelah, cita-cita maha luhur diwujudkan dengan cara bergotong royong, hingga Pura Agung Giri Natha ini menjadi kebanggaan umat Hindu di Kalimantan Timur. (RANBB)

Agama Hindu Dharma - Keunggulan Hindu

Hindu Dharma - Keunggulan Hindu

Umat Hindu Indonesia. Keunggulan Hindu
Banyak mungkin orang yang beragama lain mencemooh kita sebagai umat hindu, secara memang umat hindu di indonesia hanya mencapai 15 % penduduk Indonesia. Sangat jauh jika kita bandingkan dengan umat Islam yang mencapai 75%. Untuk itulah postingan saya kali ini akan membahas Keunggulan Umat Hindu dibandingkan dengan Umat-umat lainnya.

1. Keselarasan
    mengapa saya taruh keselarasan menjadi keunggulan Hindu yang pertama??jawabannya sangat simple, itu karena Hindu merupakan Agama yang sangat menjujung tinggi keselarasan dalam hidup. Baik keselarasan beragama maupun keselarasan dengan Alam. Dalam Ajaran Hindu dikenal adanya istilah Tri Hita Karana , Apakah Tri Hita Karana itu??Tri yang berarti tiga, Hita yang bermakna Kebahagiaan, dan Karana yang artinya Penyebab. Jadi bisa kita simpulkan bahwa Tri Hita Karana Merupakan tiga penyebab kebahagiaan. Saya tidak akan panjang lebar menjelaskan bagian dari tri hita karana tersebut, karena sudah banyak refrensi yang membahas mengenai itu. Jadi apa hubungan nya keselarasan dengan Tri Hita Karana??Tri Hita Karana Merupakan suatu ajaran yang sangat menjaga keselarasan hidup umat Hindu, Mengapa??karena Tri Hita Karana Mengajarkan kita untuk selaras dengan Alam, Selaras dengan sesama manusia, serta kita diajarkan untuk selaras dengan sang Pencipta.

2. Ikut Dalam Menyelamatkan Dunia
   Masyarakat Hindu di Bali setiap Tilem Kesanga, menjalani Hari Besar yang sangat Suci, yakni NYEPI. dalam perayaan pergantian tahun baru caka itu, tidak akan dilihat kemeriahaan seperti tahun-tahun baru umat lain. Umat hindu akan sangat khusuk dalam melakukan Tapa Brata Penyepian atau yang umum dikenal sebagai pantangan-pantangan yang harus dihindari. sekarang apa hubungan nya dengan penyelamatan dunia??disaat nyepi itulah sesunggguh nya Umat hindu ikut serta dalam menyelamatkan dunia dari isu pemanasan global yang belakangan ini menyeruak di berbagai Negara. Disaat umat hindu melakukan tapa brata penyepian, segala aktivitas dihentikan total, tidak ada lagi asap dari kendaraan bermotor yang mencemari udara setiap hari. Pertamina dan PLN sangat bangga dengan Perayaan Nyepi, karena mereka dapat menghemat disaat Umat Hindu melaksanakan Nyepi.

3. Memiliki keakuratan penanggalan
    Sudah tidak diragukan lagi para cendekiawan-cendekiawan Hindu sangat mahir dalam penanggalan, maka tidak akan heran jika kita tidak pernah ribut dalam menentukan hari besar umat hindu. kita bisa lihat dari umat lain yang masih sangat sering berbeda pandangan mengenai menentukan hari besarnya sendiri. Kita harus bangga menjadi umat Hindu yang tidak seperti anak kecil hanya dalam menentukan hari suci masih berbeda keyakinan.

4. Istilah Hindu Dipakai di Negara Mayoritas Muslim
    Istilah-istilah Hindu baik dari bahasa sanskerta ataupun bahasa kawi sangat banyak digunakan oleh instansi-instansi pemerintahan di Indonesia. Walaupun mayoritas Agama di Indonesia adalah Islam, namun mereka tidak sadar jika tetap menggunakan istilah-istilah Hindu. Sebut saja PARI PURNA , dalam sidang di DPR maka kita akan sering kali mendengar kalimat itu. kalimat PARI PURNA itu memiliki makana yang sempurna ataupun paling sempurna. Bhineka Tunggal Ika menjadi istilah yang kedua yang dipakai di Indonesia, dan yang sangat membuat kita bangga sebagai umat Hindu adalah Kalimat Bhineka tunggal Ika tersebut menjadi lambang dari bangsa Indonesia. Bhineka TunggaL Ika yang memiliki arti "berbeda-beda tetapi tetap satu jua" sudah dikenal dari zaman kerajaan Maja Pahit yang terdapat juga dalam bahasa sansekerta.  Pancasila sudah tidak asing lagi kita dengar, pancasila merupakan lima sikap atau pedoman perilaku dalam berbangsa dan bernegara. Istilah ini sebenarnya sudah ada ber abad-abad yang lalu, namun soekarno melihat bahwa pancasila ini cocok untuk menjadi pedoman dalam perilaku berbangsa dan bernegara sehingga soekarno saat itu mencetuskan ide untuk menjadikan Pancasila menjadi sebuah pedoman untuk berbangsa.

sumber : http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com

Kamis, 18 Juli 2013

Pura Giri Pati Mulawarman Pontianak


Umat Hindu Pontianak. Pura Giri Pati Mulawarman berada Jalan Adi Sucipto No. 12, Kabupaten Kubu Raya Pontianak Kalimantan Barat.  Pujawalinya bertepatan dengan Hari Raya Galungan, Budha Kliwon Dunggulan.

Keberadaan Umat Hindu di Kalimantan Barat sudah ada sejak dahulu namun jumlah umat Hindu di Kalimantan Barat ini tidak sebanyak umat Hindu di pulau Bali, namun umat Hindu disini berasal dari berbagai suku seperti Jawa dan penduduk asal seperti suku dayak dan lain-lain.
Pura sebagai pusat kegiatan keagamaan umat Hindu di Pontianak ini baik kegiatan persembahyangan Purnama - Tilem, rerahinan , maupun hari Raya besar seperti Hari Raya Nyepi, Hari Raya Galungan dan Kuningan, Siwaratri, Saraswati, Pagerwesi. Umat selalu antusias dalam setiap kegiatan ini, karena inilah waktu yang tepat untuk dapat berkumpul, mesima krama menyama braya di tanah rantau Kalimantan.

Demikian juga kegiatan suka-duka mebanjar tetap dilaksanakan di lingkungan Pura Giri Pati Mulawarman ini, kegiatan kepemudaannya tidaklah kalah penting dalam selalu menjaga Budaya dan Agama Hindu dimanapun berada, seperti dalam perayaan Nyepi dengan pembuatan Ogoh-ogoh.

Peranan Parisada dalam menjaga, membina, dan merangkul setiap umat Hindu agar senantiasa bersatu dalam Dharma, dan mampu memberi sumbangan kepada daerah setempat, melalui kegiatan-kegiatan keagamaan.

PURA DI PONTIANAK KALIMANTAN BARAT :

Pura Giripati Mulawarman - Alamat : Jl. Adisucipto No. 12 Ptk
Pura Giri Kertha Bhuana  - Alamat : Ds.Kalimas Sui Kakap
Pura Giri Araertha Jaya - Alamat: Ds. Rasau Jaya
Pura Prajapati - Alamat : Jl. Adisucipto Ptk
Kabupaten Bengkayang
Pura Giri Penyanggar Anantasana -  Alamat : Desa Cipta Karya
Pura Giri Purwa Dharma  - Alamat : Desa Kamuh, Sanggoledo
Kabupaten Sambas
Pura Giri Dharma Kerthi -  Alamat : Desa Spandak, Sambas
Pura Giri Mandara Jati - Alamat : Desa Keraban, Sambas
Kabupaten Ketapang
Pura Giri Amertha Bhuwana - Alamat : Desa Benawai Agung
Pura Dalem - Alamat : Desa Benawai Agung
Pura UlunSuwi  - Alamat : Desa Benawai Agung
Pura Dadia - Alamat : Desa Benawai Agung
Pura Giri Komala Kencana - Alamat : Desa Kendawangan
Kabupaten Sintang
Pura Giri Penataran Agung - Alamat : DesaTinom Baru
Pura GiriLuhur  - Alamat : Desa Londang
Pura Giri Yoga Sakti - Alamat :Desa Senibung
Kabupaten Sanggau
Pura Giri Dewata Mandala - Alamat : Ds Kuala Buayan, Meliau
Pura Giri Dewata Saraga - Alamat : Ds. Mpaung Meliau
(RANBB)

Pura Agung Surya Buwana di Bukit Skyland Jayapura

Umat Hindu Papua. Umat Hindu di Papua atau dahulu bernama Jayapura Irian Jaya lebih sering berkumpul di Pura Agung Surya Buwana di Bukit Skyland untuk kegiatan-kegiatan keagamaan, seperti purnama-tilem, kajeng kliwon, Galungan dan Kuningan atau sekedar melepas rindu kampung halaman dengan kegiatan mebanjar, mebat, ngelawar dan menyama braya.

Pura Agung Surya Buwana  Papua  memiliki wantilan yang dipergunakan oleh Umat Hindu untuk berkegiatan me- suka duka.  Terdapat juga Asrham atau Pasraman yang dipergunakan untuk kegiatan belajar agama terutama pendidikan agama Hindu anak-anak sekolah setiap Minggu.


Pura Wana Linggan Sri di Kabupaten Sarmi
Pura Wana Linggan Sri  berloklasi di distrik Bonggo Kabupaten Sarmi, dengan pujawali atau piodalannya jatuh pada Tilem Kedasa. Pura Wana Linggan Sri di Bonggo  tersebut “diempon” oleh empat keluarga  (tahun 2011) yang merupakan transmigran asal Karangasem dan Buleleng, Provinsi Bali itu. Mereka datang ke Pulau cendrawasih tersebut sekitar tahun 1995 lalu. (RANBB)

Pura Giri Indra Lokha Kota Jambi

Umat Hindu Jambi. Pura Giri Indra Lokha berada di Jl. Lingkar Selatan Kenali Asam Bawah Kecamatan Kota Baru Propinsi Jambi dibangun pada tahun 1994.

Pusat kegiatan umat Hindu di kota Jambi adalah di Pura Giri Indra Loka, seperti Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Nyepi, kegiatan suka duka mebanjar menyama braya.

Lokasi Pura yang berada di Jl. Lingkar Selatan I Kenali Asan Bawah Kecamatan Kota Baru-Kota Jambi tersebut memiliki luas tanah 3.870 Meter persegi, dibagian sudut pagar depan terdapat papan nama yang bertuliskan Tanah Hak Milik Pemprov Jambi dengan nomor sertifikat HP.No.04 Tahun 1992 dan tertanda Setda Provinsi Jambi tahun 2012.


Pura Hindu di Jambi :

Kota Jambi
Pura Giri Indra Loka
Alamat : Jl. Lingkar Selatan 1, Kel.Kenali asam Bawah, Kec.Kota Baru, Kota Jambi

Muaro Jambi
Pura Tirta Wening
Alamat : Desa Petaling Jaya, Kec.Kumpeh Ulu, Kab. Muaro Jambi

Sarolangun
Pura Tri Wahyu Marga Sorga Loka
Alamata: Desa Payo Lebar, Desa Pelawan Singkut, Kab.Sarolangun

RANBB

Rabu, 17 Juli 2013

Umat Hindu Luwu Timur Melaksanakan Pitra Yadnya Ngaben

Lutim Kembali Gelar Ngaben Massal
Krama Desa Cendana Hitam, Tomoni Timur, Kabupaten Luwu Timur kembali menggelar ngaben massal untuk yang ketiga kalinya, rabu (17/07/2013).

Pada kegiatan ngaben massal ini sebanyak 56 jenazah yang diaben. Hadir dalam acara ini Ketua Parisada Hindu Dharma Kabupaten Luwu Timur, Wayan Sudiarsa dan umat Hindu dari Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara serta warga Hindu se-Luwu Timur.

Upacara Pitra Yadnya atau Ngaben Massal III di desa Cendana Hitam ini merupakan peringatan upacara penyucian atma (roh) yang pertama, sebagai kewajiban umat Hindu kepada leluhurnya dengan melakukan upacara pembakaran jenazah. Makna upacara ini adalah mengantar kerabat yang meninggal agar bisa berjalan lancar dalam kehidupan di alam lain setelah hidup di dunia ini.

Sementara itu dalam sambutannya Wakil Bupati Luwu Timur HM Thorig Husler menyampaikan apreisasi yang sebesar-besarnya untuk terselenggaranya acara ini. Meski dalam suasana duka perayaan ini menjadi momentum untuk merajut persaudaraan, membangun silaturahmi dan merekatkan hubungan sosial dengan seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya upacara ritual ini menjadi keunikan dan kemajemukan sehingga  memperkaya khasanah dan kebudayaan masyarakat yang dapat dikembangkan untuk menunjang potensi kepariwisataan Luwu Timur.

sumber: http://makassar.tribunnews.com/2013/07/17/lutim-kembali-gelar-ngaben-massal

Pura Agung Gunung Raung Desa Taro Tegalalang Kabupaten Gianyar

Umat Hindu Bali. Pura Kahyangan Jagat Pura Agung Gunung Raung Taro terletak di desa Taro Kecamatan Tegalalang Kabupaten Gianyar, dengan pengempon pura dari Desa Pakraman Taro Kaja. Letak pura diantara dua buah aliran sungai yaitu sungai Wos Lanang (Wos Kangin) dan Wos Wadon (Wos Kauh). Suasana di sekitar pura sangat alamiah, seperti suasana pedesaan pada umumnya. Disebelah selatan, sebelah utara dan sebelah timur pura terdapat pemukiman penduduk sedangkan dibagian barat masih hutan. Tata letak pura Agung Gunung Raung terdapat pada suatu desa yang tergolong Desa Kuno yang berada di Bali Tengah.

Pura Agung Gunung Raung dibangun oleh Mahayogi Markandeya, yaitu seorang raja yang bertahta di Bali Tengah berkeraton di Mangupura (Kerajaan Mengwi). Mahayogi Markandeya banyak mempunyai tanda mantri, punggawa, dan manca seperti : I Gusti Ngurah Batu Lepang berpuri di Sela Guru, bersaudara dengan I Gusti Ngurah Mambal yang berpuri di Mambal. Keduanya berasal dari Majapahit, yang keduanya pula dinobatkan menjadi penguasa (Ratu Arya) yang memimpin rakyat sebanyak dua puluh ribu yang merencanakan membangun kahyangan ( Pura Agung Gunung Raung ) agar stana para Bhatara menjadi lengkap. Nama Gunung Raung terdapat dalam nama pura ini karena di Gunung Raung Jawa Timur merupakan tempat pasraman Mahayogi Markandeya sebelum beliau ke pulau Bali.

Setelah selesai pembangunan seluruh pelinggih dan semuanya sudah dianggap lengkap parahyangan tersebut, kemudian dilaksanakan upacara Dewa Yajna. I Gusti Ngurah Sakti ( Cokorde Sakti Blambangan) yang melaksanakan upacara tersebut dan Ida Sang Brahmana Sakti yang dijuluki Siddhi Mantra (mempunyai mantra yang sangat bertuah) yang bertanggung jawab atas pelaksanaan upacara agar tercapai sesuai dengan tujuan.

Upacara tersebut dilaksanakan pada waktu Bulan Kartika ( pertengahan Oktober - November ), Mertha masa pratiti Jati, tanggal 15 Sukla Paksa (bulan terang /penanggal) beliau Ida Sang Brahmana Sakti tersebut juga menentukan hari baik (dewasa) tersebut. Beliau juga yang dimohon bertanggung jawab atas keberhasilan upacara tersebut. Setelah selesai upacara tersebut sejahteralah kerajaan, rakyat semua saling menghormati, merasa saling membutuhkan semuanya menghendaki kesempurnaan hidup. (RANBB)

Umat Hindu Lampung Tengah Ingin Memiliki Gamelan

Umat Hindu Lampung. Surat Pembaca  16 Juli 2013 | BP. Warga kami dari Buana Makmur Kampung Mataram Udik Kecamatan Bandar Mataram Kabupaten Lampung Tengah mau mewujudkan keinginan membeli gamelan baleganjur yang sudah terkirim/diterima dari warga Buana Makmur Kampung Mataram Udik Kecamatan Bandar Mataram pada tanggal 14 Maret 2013 dari pihak pemilik gamelan Gema Kencana Denpasar bernama Bapak Wayan Redana. Gamelan yang sudah dikirim ke warga kami masih tersangkut/belum lunas. Karenanya saat ini warga kami sangat mengharapkan uluran tangan/bantuan punia dari umat se-dharma di mana pun berada. Sehingga kami bisa melunasi pembelian gamelan tersebut, karena kemalangan warga kami yang jauh berada di wilayah pedalaman Kabupaten Lampung Tengah dalam kondisi kurang mampu, tetapi mereka sangat ingin memiliki seperangkat gamelan baleganjur untuk dapat mereka jadikan sarana upacara dan melestarikan seni budaya Bali.

Dana yang dibutuhkan Rp 26.800.000 (dua puluh enam juta delapan ratus ribu rupiah). Masyarakat kami yang berada di Buana Makmur berjumlah 140 KK dan 554 jiwa. Memiliki tempat ibadah Pura Puseh, Desa dan Dalem, piodalan-nya pada Purnamaning Kasa dan piodalan di Pura Dalem jatuh pada Purnamaning Kapat. Untuk itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Kecamatan Bandar Mataram memohon dengan sangat uluran tangan umat se-dharma agar dapat kiranya warga kami memiliki seperangkat gamelan sida karya atau balegajur hingga dapat menambah sakralnya upacara tersebut serta tetap dapat mengajegkan Bali walaupun jauh di seberang sana.



PHDI Desa Adat Buana Makmur

I Ketut Suwitra Yasa

PHDI Kec. Bandar Mataram

I Made Sudarte, S.Pd., M.Pd.

Mengetahui

Ketua PHDI Kab. Lampung Tengah

I Ketut Suryadi


 sumber : Surat Pembaca  16 Juli 2013 | BP  http://www.balipost.co.id

MOHON PADA UMAT YANG MENGETAHUI NO CONTACT  ATAU NO REKENING UNTUK MENYALURKAN BANTUAN, DAPAT DI TULISKAN DISINI.

Cari Artikel di Blog ini

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...